EKOSISTEM TERESTRIAL
Terrestrial Ecosystem
Nurfauziah1
1Mahasiswa Jurusan Biologi Fakultas Sains dan Teknologi
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
E-mail:
nurfauziahzia@gmail.com
Kamis, 9 April
2015
ABSTRAK
Ekosistem adalah suatu sistem ekologi yang terbentuk
oleh hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungannya.
Komponen-komponen pembentuk ekosistem adalah komponen hidup (biotik) dan komponen tak hidup
(abiotik). Tujuan
dari praktikum ini ialah mengetahui komponen - komponen ekosistem terestrial
dan pengaruh atau hubungan antara satu komponen dengan komponen yang lain. Metode yang digunakan yaitu membuat
garis transek dengan kuadran caranya yaitu dengan memilih lima plot percobaan
yang diperkirakan memiliki kandungan bahan organik yang tinggi, dalam hal ini
menggunakan lokasi ditutupi kanopi pohon dan yang tidak ditutupi pohon dengan
panjang transek 5 m, kemudian membuat plot untuk mengetahui
biota tanah dengan hand shorting. Kekayaan
jenis tumbuhan menggunakan pengolahan data indeks Margalef yang paling rendah
terjadi pada jarak plot 2 m. Sedangkan kekayaan jenis yang paling tinggi berada
pada jarak 4m. Pada jarak 4 m ialah terdapat pada daerah diluar kanopi.
Sementara indeks Margalef biota tanah terendah adalah pada jarak 1
dan 2m dengan nilai 0, sedangkan yang memiliki indeks kekayaan jenis tertinggi
adalah pada jarak 5m berada di daerah yang tidak tertutupi kanopi dengan nilai
1,9. Berdasarkan percobaan diatas dapat disimpulkan bahwa semua komponen
baik abiotik maupun biotik yang menyusun suatu ekosistem terestrial itu saling
mempengaruhi satu dengan yang lainnya, sehingga membentuk satu kesatuan yang
tidak dapat dipisahkan.
Kata
kunci
: Biota tanah, ekosistem
terestrial, faktor abiotik, tumbuhan
ABSTRACT
An ecosystem is an ecological system formed by a
reciprocal relationship between the living and the environment. Forming
components of ecosystems is a component of living (biotic) and nonliving
components (abiotic). The purpose of this lab is to identify the components -
components of terrestrial ecosystems and the influence or relationship between
one component with another component. The method used is made with quadrant
transect line way is by choosing five experimental plots were estimated to have
a high content of organic matter, in this case using the location of the tree
canopy covered and which are not covered tree with a length of 5 m transect,
then made a plot to determine biota ground with a hand shorting. Plant species
richness using data processing Margalef lowest index occurs at a distance of 2
m plots. While the highest species richness at a distance of 4m. At a distance
of 4 m is found in areas beyond the canopy. While the lowest soil biota
Margalef index is at a distance of 1 and 2m with a value of 0, while those with
the highest species richness index is at a distance of 5m located in areas that
are not covered canopy with a value of 1.9. Based on the above experiments it
can be concluded that all both abiotic and biotic components that make up a
terrestrial ecosystem that influence each other, thus forming a unity that can
not be separated.
Keywords : soil biota, terrestrial ecosystems, abiotic
factor, , plants
I. PENDAHULUAN
Ekosistem terestrial merupakan suatu
sistem dimana terdapat hubungan timbal balik antara faktor biotik dan faktor
abiotik yang terdapat di daratan. Komponen biotik pokok terdiri dari tumbuhan,
hewan dan dekomposer. Komponen abiotik utama pada ekosistem terestrial adalah
tanah sebagai daratan, air dan udara (Soerianegara, 1988), komponen inilah yang
dapat menentukan jenis dari suatu ekosistem serta komponen penyusunnya (Odum,
1983).
Faktor abiotik dari ekosistem
terestrial memiliki beberapa indikator sebagai faktor pembatas, seperti suhu,
kelembaban dan pH. Menurut Iwan ( 2013 ) keberadaan dan keberhasilannya
organisme dipengaruhi lengkapnya kebutuhan yang diperlukan, termasuk unsur‐unsur
lingkungan yang kompleks. lingkungan yang kompleks. Tidak adanya dan atau tidak
eksisnya suatu organisme, dapat dikendalikan dengan kurangnya atau kelebihan
secara kuantitas dan kualitas dari salah satu atau lebih faktor yang mungkin
mendekati batas‐batas toleransi organisme tersebut.
Hukum ini disebut ‘Hukum toleransi Shelford” (Zoer’aini, 1992).
Vegetasi
menentukan kelembaban suatu tanah dan kelembaban tanah menentukan kehadiran
biota permukaan tanah. Vegetasi selain sebagai tempat berlindung juga sebagai
penyedia bahan makanan. Lapisan serasah dari vegetasi selain sebagai penyedia
bahan organik juga sebagai pelindung tanah. ketersediaan unsur hara untuk
vegetasi ini didukung dengan adanya pH tanah yang mendekati netral. Sedangkan
pada lingkungan nonvegetasi cahaya dapat masuk sepenuhnya tanpa adanya
penghalang (tajuk), sehingga kelembaban tanahnya juga lebih rendah dibandingkan
dengan lokasi vegetasi, hal ini juga mempengaruhi komponen lainnya seperti
kecepatan angin yang lebih tinggi di lokasi nonvegetasi (Nurhadi, 2011).
Adanya
faktor fisik berbeda pada lokasi vegetasi dan nonvegetasi menjadi suatu faktor
pembatas sehingga komponen yang menyusun ekosistemnya berbeda meski dalam satu
ekosistem yang sama yaitu ekosistem terestrial. Dengan demikian Tujuan dari
praktikum ini ialah perlu dilakukannya suatu penelitian terhadap komponen
ekosistem terestrial dan pengaruh atau hubungan antara satu komponen dengan
komponen yang lain yang dapat diketahui dari perbedaan faktor-faktor fisik pada lokasi vegetasi dan nonvegetasi sehingga
menyebabkan komponen penyusun ekosistemnya berbeda. Berdasarkan tujuan yang
dipaparkan maka manfaatnya yaitu diharapkan mahasiswa dapat mengamati ekosistem
terestrial yang berada dilingkungan kampus 1 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta,
dan dapat mengetahui komponen-komponen penyusun ekosistem terestrial dengan
mengetahui perbedaan faktor fisik pada daerah vegetasi dan non vegetasi.
II. METODE
A.
Waktu
dan Tempt
Praktikum
ekosistem terestrial ini dilakukan di dua lokasi yaitu vegetasi dan nonvegetasi
di kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, pada tanggal 26 Maret 2015 pukul
07.30 s/d 10.00.
B.
Alat
dan Bahan
Alat yang digunakan dalam praktikum
kali ini adalah lux meter, hiygrometer,
termometer udara dan tanah, soil tester,
tali rapia, patok, penggaris, sekop dan kantung sampel.
Bahan yang digunakan dalam praktikum
ini adalah aquades, formalin, tumbuhan dan biota tanah yang terdapat di plot.
C.
Metode
Kerja
Metode yang digunakan dalam praktikum
ini adalah analisis vegetasi dengan transek garis dan kuadrat serta hand sorting pada makrofauna. Pada
analisis vegetasi pertama diukur jarak 5 meter dari pohon kemudian dibuat garis
transek sepanjang 5 meter. Pada garis transek tersebut dibuat plot berukuran
50x50 cm sebanyak 5 buah dengan jarak antar plot yaitu 50 cm. Kemudian pada plot
dibuat lubang dengan panjang 20x20 cm dengan kedalaman 10 cm, yang digunakan
untuk metode hand sorting makrofauna,
dengan cara mengambil seluruh lapisan tanah yang telah digali lalu dilakukan
sortasi. Variabel yang diukur pada
analisis vegetasi dan hand sorter makrofauna tanah berupa jumlah jenis dan
individu makrofauna tanah dan tumbuhan, suhu tanah, suhu udara, kelembaban dan
pH pada tanah (Sugiyanto, 2000).
D.
Analisi
Data
Analisis data yang digunakan yaitu
indeks margalef. Indeks margalef digunakan untuk mengukur kekayaan jenis
(Aslam, 2009), dengan rumus sebagai berikut :
D = (S-1)/ ln N
Keterangan :
D = indeks
margalef
S = ∑ jenis tiap
kuadran
N = ∑ individu
tiap kuadran
III.
HASIL
DAN PEMBAHASAN
A.
Hasil Pengamatan
Berdasarkan hasil paraktikum maka data
yang didapat adalah sebagia berikut :
Tabel ( Table ) 1. Hasil Pengukuran
faktor abiotik ( Results of Measurement of abiotic factor )
|
NO
|
Faktor Fisik
|
Dalam kanopi
|
Luar Kanopi
|
|
1.
|
pH
|
6.8
|
6.9
|
|
2.
|
Kelembapan Tanah
|
3.5
|
1
|
|
3.
|
Suhu Tanah
|
26
|
28
|
|
4.
|
Kecepatan Angin
|
0.225 m/s
|
0.016 m/s
|
|
5.
|
Suhu Udara
|
27
|
26
|
|
6.
|
Intensitas Cahaya
|
7.15 lux
|
13.34 lux
|
Berdasarkan tabel diatas nampak
perbedaan antara faktor abiotik pada lokasi ternaungi dengan lokasi tidak
ternaungi tajuk pohon. Perbedaan ini dapat mempengaruhi ekosistem organisme
yang hidup disekitarnya.
Gambar ( Figure ) 1. Kekayaan Jenis Tanaman ( Plant wealth index in and outside canopy)
Plot pada jarak 3,4 dan 5 m dari pohon
berada pada lokasi tidak ternaungi pohon, plot pada jarak 0,00, 1 dan 2 m dari
pohon berada pada lokasi ternaungi pohon. Kekayaan jenis tumbuhan tertinggi
ditunjukkan pada plot dengan jarak 4 m dari pohon
(tidak ternaungi pohon).
Gambar
( figure) 2. Kekayaan jenis
makrofauna tanah ( Animal wealt index in and outside
canopy )
Plot pada jarak
0,00, 1 dan 2 m dari pohon berada pada lokasi ternaungi pohon, plot pada jarak
3.5 dan 5 m dari pohon berada pada lokasi tidak ternaungi pohon, kekayaan jenis
makrofauna tanah tertinggi ditunjukkan pada plot dengan jarak 5 m dari pohon
(ternaungi pohon).
B. PEMBAHASAN
Tabel
1 menunjukkan perbedaan antara faktor abiotik pada lokasi ternaungi kanopi
dengan lokasi tidak ternaungi tajuk pohon . Perbedaan ini menyebabkan populasi
tumbuhan dan hewan pada kedua lokasi berbeda. Faktor abiotik dapat mempengaruhi
suatu jenis organisme pada lingkungan tersebut.
Keberadaan
suatu lokasi menjadi salah satu penentu komponen-komponen penyusun suatu
ekosistem terestrial, termasuk apakah itu lokasi ternaungi atau tidak ternaungi
pohon, keduanya akan memberikan pengaruh terhadap komponen penyusun
ekosistemnya. Sebagaimana hasil yang diperoleh dari praktikum ekosistem
terestrial ini pada dua lokasi percobaan, terdapat perbedaan-perbedaan baik
dari faktor fisik lingkungan, serta tumbuhan dan fauna tanah yang menjadi
komponen biotiknya. Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan maka dapat
diketahui perbedaan populasi hewan dan tumbuhan dengan menggunakan indeks Margalef
sehingga dapat diketahui kekayaan jenis tumbuhan dan hewan.
Berdasarkan
Grafik 1. Kekayaan jenis tumbuhan yang dilakukan pada lokasi yang ditutupi
kanopi pohon dengan yang tidak ditutupi kanopi pohon. Tumbuhan yang ditutupi
pohon adalah pada jarak 0 m sampai 3 m dan yang tidak ditutupi kanopi pohon
adalah jarak 4 m sampai 5 m. Hal ini dilakukan untuk membandingkan diantara
perbedaan tempat dengan komponen-komponen yang menyusun ekosistem tersebut.
kekayaan jenis tumbuhan menggunakan pengolahan data indeks Margalef yang paling
rendah terjadi pada jarak plot 2 m. Sedangkan kekayaan jenis yang paling tinggi
berada pada jarak 4m.
Pada
daerah di bawah kanopi tumbuhan yang didapatkan diantaranya rumput gajah ( Panicum maximum ), Clover, dan tumbuhan
herba baik perdu maupun liana , dan lain-lain. Sementara pada daerah diluar
kanopi lebih banyak ditemukan tumbuhan diantaranya rumput – rumputan ( Poaceae ), dan beberapa spesies yang
belum diketahui jenisnya.
Hal
ini berkaitan dengan faktor fisik yang mempengaruhi jumlah kekayaan jenis
tumbuhan dengan intensitas matahari yang tinggi pada daerah yang tidak
ditutupi oleh kanopi pohon sehingga jenisnya relative lebih tinggi. Suhu dan
kecepatan angin juga berpengaruh dalam komponen jenis tumbuhan yang tumbuh, karena
ada jenis tumbuhan tertentu yang memiliki spesifikasi tempertur dan intensitas
yang dibutuhkan dalam pertumbuhan tumbuhan tersebut.
Menurut
Jorgensen (1989) jika kekayaan jenis pada suatu tempat dengan Indeks Margalef
> 4,0 maka kekayaan jenis tumbuhan tersebut baik, jika diantara 2,5- 4,0
maka kekayaan jenisnya dapat dikatakan sedang, dan jika indeks Margalefnya <
2,5 maka kekayaan jenis nya dapat dikatakan buruk. Sehingga dari hasil yang
didapat pada plot 2 pada jarak 2m dengan indeks Margalef 0,86 kekayaan jenis
tumbuhannya buruk dan pada jarak jarak 4m denga Indeks Margalef 2,28, kekayaan
jenisnya masih tergolong buruk.
Berdasarkan
Grafik 2. diatas yang memiliki indeks Margalef terendah adalah pada jarak 1 -
2m dengan nilai 0 atau tidak ditemukan makrofauna tanah, sedangkan yang
memiliki indeks kekayaan jenis tertinggi adalah pada jarak 5m dengan nilai 1,9.
Hal ini menunjukan bahwa kekayaan jenis biota tanah tertinggi ditemukan pada
lokasi diluar tutupan kanopi. Faktor abiotik yang melebihi batas optimum akan
mempengaruhi distribusi dan jenis komponen-komponen yang ada dalam ekosistem
terestrial.
Hakim
dkk (1986) dan Makalew (2001), menjelaskan faktor lingkungan yang dapat
mempengaruhi aktivitas organisme tanah yaitu, iklim (curah hujan, suhu), tanah
(kemasaman, kelembaban, suhu tanah, hara), dan vegetasi (hutan, padang rumput)
serta cahaya matahari. Cahaya matahari merupakan salah satu faktor yang dapat
mempengaruhi sifat-sifat tumbuhan dan hewan.
Tingginya
kekayaan jenis baik pada tumbuhan ataupun fauna pada lokasi tidak ternaungi
pohon dibandingkan lokasi ternaungi pohon adalah karena banyaknya perbedaan
faktor fisik lingkungan (tabel 1), pada lokasi ternaungi terdapat tutupan
kanopi yang menyebabkan penetrasi cahaya matahari tidak langsung ke permukaan
tanah hal tersebut sesuai dengan hasil pengukuran dimana intensitas cahaya pada
vegetasi lebih rendah, karena terlindung oleh tajuk pohon sehingga suhu
tanahnya juga lebih rendah. Vegetasi sangat menentukan kelembaban tanah dan
kelembaban tanah menentukan kehadiran fauna tanah. pada lokasi vegetasi
keasaman tanahnya juga lebih rendah dibandingkan nonvegetasi sehingga mendukung
ketersediaan unsur hara untuk vegetasi (Nurhadi, 2011).
Menurut
Setiadi (1989), peranan terpenting dari fauna tanah di dalam ekosistem adalah
sebagai perombak bahan organik. Nutrisi tanaman yang berasal dari berbagai
residu tanaman akan mengalami proses dekomposisi sehingga terbentuk humus
sebagai sumber nutrisi bagi tanah, sehingga ketika tanah itu subur maka
tumbuhan pun akan tumbuh subur karena sumber nutrisinya terpenuhi. Buckman dan
Brady (1982) menambahkan bahwa fauna tanah berperan penting dalam mempercepat
penyediaan hara dan juga sebagai sumber bahan organik tanah. Beberapa fauna
tanah berperan langsung dalam menghancurkan fraksi-fraksi organik tanah.
IV. KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
1.
Faktor abiotik yang mempengaruhi
suatu ekosistem adalah suhu tanah, kelembaban tanah, pH tanah, kecepatan angin,
suhu udara, dan intensitas cahaya.
2.
Kekayaan jenis tumbuhan dengan
indeks Margalef yang tertinggi berada
pada daerah tidak tertutupi kanopi.
3.
Kekayaan jenis hewan dengan nilai
indeks Margalef tertinggi terdapat pada daerah yang tidak tertutupi kanopi.
4.
Semua komponen baik abiotik
maupun biotik yang menyusun suatu ekosistem terestrial itu saling mempengaruhi
satu dengan yang lainnya, sehingga membentuk satu kesatuan yang tidak dapat
dipisahkan.
B. Saran
Diharapkan
untuk praktikum selanjutnya data yang didapat pada saat praktikum dapat
terkumpul dengan cepat dan alat-alat yang digunakan dapat dipersiapkan dari
hari sebelumnya.
V. UCAPAN TERIMAKASIH
Saya ucapkan terima kasih kepada Walid
Rumblat, S. Si dan Khairul Hidayah, S. Si selaku dosen praktikum ekologi
terestrial, saya ucapkan terimakasih pula pada Dara Mutiara Fiesca dan Ai
winarsih selaku asisten praktikum ekologi terestrial yang telah membimbing
saya, sehingga saya dapat menyelesaikan laporan ini. Tak lupa juga saya ucapkan
terimakasih kepada laboran yang ada di PLT UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang
telah menyediakan alat-alat yang dibutuhkan dalam praktikum ekologi terestrial
ini.
VI.
DAFTAR
PUSTAKA
Aslam, Muhammad. 2009. “Diversity, Species Richness And Evenness Of
Moth Fauna Of Peshawar”. Pakentamol.
Vol. 31 (2).
Buckman, M.H dan Brady. 1982. Ilmu
Tanah. Bharata Karya, Jakarta.
Hakim, N., M. Y. Nyakpa, A. M. Lubis, S.
G. Nugroho, M. A. Dika, Go Ban Hong, H. H. Bailley. 1986. Dasar-Dasar Ilmu
Tanah. Universitas Lampung. Lampung.
Iwan Hilwan, dan Eko putranti. 2013. “Keanekaragaman Mesofauna dan Makrofauna
Tanah pada Areal Bekas Tambang Timah di Kabupaten Belitung, Provinsi Kepulauan
Bangka-Belitung “. Jurnal silvikultur
tropika Vol 04. Fakultas kehutanan IPB.
Jorgensen, Sedan Vollenweider, R.A.
1989. Guidelines of lakes. Management:
Principle of lakes Management. International Lake Environment Foundation.
Shiga – Japan Cc.
Makalew, A. D. N. 2001. “Keanekaragaman Biota Tanah Pada Agroekosistem
Tanpa Olah Tanah (TOT)”. Makalah Falsafah sains program pasca
sarjana /S3. IPB press. Tersedia di :
Http://www.hayatiipb. com/users/rudyct/indiv2001/afra-dnm.htm.
Nurhadi. 2011. “Komposisi Arthropoda Permukaan
Tanah Di Kawasan Pabrik Pupuk Sriwijaya Palembang”. Jurnal Ilmiah Ekotrans Universitas Ekasakti
Padang. Vol. 11 (1).
Odum, EP. 1983. Basic Ecology. Saunders. Philadelphia.
Setiadi, Y. 1989. Pemanfaatan Mikro
Organisme dalam Kehutanan. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat
Jenderal Pendidikan Tinggi Pusat Antara Universitas
Sugiyarto. 2000. “Keanekaragaman Makrofauna Tanah Pada Berbagai Umur Tegakan Sengon di
RPH Jatirejo Kabupaten Kediri”. Biodiversitas. 1 (2) : 11-15
Zoer’aini, D.
Irwan .1992. Prinsip‐Prinsip Ekologi
dan Organisasi Ekosistem Komunitas dan Lingkungan. Bumi Aksara.
Jakarta.